JAKARTA DAN LELAKI BERWAJAH PUISI

hujan

sumber: REUTERS/Zoran Milich

 

malam hujan, Jakarta bernostalgia dengan doa dan umpatan kesumat

jalanan mampat, membunuh waktu dan arus cerita

 

perempuan asal jawa itu, di sudut terminal

duduk terpaku, membiarkan cipratan hujan di wajah desanya

batinnya satu, mencari lelaki berwajah puisi

dahulu, menuliskan alamat beraroma rindu di kening dan bibirnya

 

malam Jakarta makin ke tepi

perempuan asal jawa itu

menghirup asap knalpot dan alkohol murahan

melanjutkan perjalanan, mencari lelaki berwajah puisi

 

Jakarta, 2011

 

 

 

Iklan

KULINER ANAMBAS

Kabupaten Kepulauan Anambas, KEPRI, selain terkenal dengan keindahan alamnya, wisata kulinernya juga sangat menggoda. Karena merupakan wilayah kepulauan, disana lidah kita akan dimanjakan dengan berbagai olahan ikan. hampir semua jenis makanan ada unsur ikannya.

P1020370

kwetiau dan teh tarik tarempa-siantan

DSC03170

laksa

DSC02427

nasi goreng merah dan es campur-tebang, pulau matak

DSC04076P1020458DSC05794

Photo 1162

ikan salai, krupuk atom,cumi kerin 

DSC05842

 

 

 

 

 

TANJUNG EMAS DAN KUMAI: PEMBERHENTIAN KESEKIAN

tanjung emas

sumber: semarang.bisnis.co

Sebagaimana terminal, bandara, bahkan pangkalan ojek, Pelabuhan Tanjung Emas adalah tempat pemberhentian. Berhenti sebentar untuk sekedar mengelap keringat, merapikan baju lalu bergegas pulang atau beristihat sejenak, minum teh panas dan makan gorengan yang ‘mongah-mongah’ lengkap dengan cabe rawit nya- kemudian berangkat lagi melanjutkan perjalanan.
Banyak cerita dan kabar, sedih dan gembira yang tumpah ruah. Banyak ketergesaan tapi melimpah juga yang memperlambat jalannya, enggan berangkat (lagi), enggan pulang, enggan bergerak. Satu dan lain hal, yang mbulat-mbulat dalam hati dan pikiran mereka, mengharuskan sebuah keberangkatan dan kepulangan.
***
Sebuah mobil travel memasuki pelataran pelabuhan, dan perempuan muda itu, sepertinya kepayahan dengan tas-tas bawaannya. Bajunya kusut oleh perjalanan Jogja-Semarang via Solo, berangkat ba’da ashar tadi dari sebuah agen tour and travel persis di depan pintu masuk terminal Giwangan.
Hampir jam sembilan malam , dia mengedarkan pandangan di temaram lampu yang kemerahan. Tangannya merogoh saku celana, mengambil tiket kapal yang hendak ia tumpangi : Darma Kencana 2-Economy Class, Adult dengan tujuan Kumai-Pangkalan Bun. Tiket dengan gambar kapal laut sebagai cover nya itu terdiri dari 4 lembar ; lembar pertama adalah cover, sedang disebaliknya berisi perjanjian pengangkutan pelayaran, lembar kedua terbagi menjadi 3 bagian yaitu 1st terminal entry pass, 2nd terminal entry pass, dan ship boarding pass. Sedang lembar 3 dan 4 adalah agent coupon dan passenger coupon.
Setelah memperlihatkan tiket pada petugas dan membayar pas terminal penumpang, perempuan itu memasuki ruang tunggu penumpang di gedung nusantara 2. Penuh sesak, tak hanya di kursi-kursi tunggu tapi orang-orang membentangkan tikar, tiduran, tidur, atau sekedar diam dengan mata penuh kisah. Mungkin mereka baru sejam menunggu seperti perempuan itu, tetapi bisa juga semalam, dua malam. Sebab jadwal kapal jauh dari kata pasti, mereka hanya berbekal nomor telpon agen tiket kapal, agar tak terlalu lama menunggu di pelabuhan.
Jam sepuluh-an malam, pintu ruang tunggu menuju kapal dibuka, boarding. Dari ruang tunggu menuju kapal berjalan cukup jauh, jika tak menggunakan jasa porter, agak repot rasanya. Sebab selain bawaan yang berat(tidak seperti naik pesawat, penumpang kapal harus membawa bagasinya sendiri, dengan ukuran 0,1m³ atau dengan berat 30kg dan free over bagasi 10 kg untuk kelas III/ekonomi), penumpang akan ‘berkompetisi’ memasuki pintu kapal yang berjubel manusia. Belum lagi mencari dimana kursi/kabin sesuai tiket.
Nampaknya menggunakan jasa porter adalah pilihan perempuan muda itu, sekarang dia sudah bersantai-mencondongkan tubuhnya di pagar tepi kapal, kearah pelabuhan. Tangga menuju kapal sudah ditarik, pun keberangkatan masih lama. Para penjual makanan di pelabuhan melemparkan tali keatas , kearah pagar kapal, lalu meminta tolong penumpang untuk mengikatnya di pagar. Diujung bawah digantungkan tas untuk memuat barang-barang/makanan yang akan dibeli penumpang sekaligus nantinya tempat uang dari para pembeli.
Terlintas sisi menyé-menyé dari perempuan itu, ada seseorang yang berlari-lari sambil memanggil namanya- ketika tangga kapal hendak ditarik. Lalu seperti adegan di film-film, orang itu akan menerabas masuk dan menggegam erat tangannya, bersimpuh, memohon untuk tak pergi. Hahh!!! Ngayal.

ruang tidur kapal

ruang tidur kapal

Berbantal tas bawaannya, perempuan itu merebahkan diri,mengumpulkan energi untuk pemberhentian berikutnya. Satu tempat tidur dengan tempat tidur lain los-losan saja, hanya dibatasi dibagian pundak keatas sampai kepala. Mungkin agar tak saling menatap, hingga tak perlu ada kisah yang berlompatan dari banyak mata yang dibawa tuannya untuk berangkat atau pulang.
***
Kira-kira jam sebelas, malam berikutnya, kapal hendak sandar tetapi urung sebab air surut. Khawatir jika kapal kandas. Baru sekitar satu jam berikutnya, terdengar suara dari pengeras:
“Adék-adék standby di buritan dan haluan, para penumpang untuk turun setelah kendaraan dikeluarkan dari kardék!”
Perempuan muda itu tidak segera beranjak–tidak sebelum menyelesaikan wirid keberangkatan, kepergian, atau mungkin sekedar doa keselamatan ditempat pemberhentian yang sudah didepan mata : KUMAI.
Kumai, Tanjung Emas, hanyalah pemberhentian kesekian bagi perempuan itu. Mungkin akan terlupakan begitu saja, bisa juga terkenang-kenang, melekat di ingatan seperti halnya Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi bagi seorang Didi Kempot. Sekian.

mbulat-mbulat : berkobar-kobar
mongah-mongah : panas sekali, masih mengeluarkan asap
menyé-menyé : melakonlis
los-losan : jadi satu, tidak ada pembatas

—Cerita ini diambil dari catatan perjalanan ‘perempuan muda’ itu, terjadi beberapa tahun lalu, ketika harga tiket travel jogja-tanjung emas masih Rp 60.000,- dan pas terminal penumpang Rp 4000,- juga harga tiket kapal kelas ekonomi tanjung emas-kumai masih Rp 150.000,-.

MALAM KOTA DAN RIBU-RIBU KATA

penyair perempuan

secangkir coklat panas
sendiri saja di meja bulat telur kayu trembesi
di sudut kafenya orang-orang berwajah puisi
sembunyi pada temaram yang tawar—ditinggal tuannya

panggung berderik
saat kursi geser kesana kemari
tubuh tuan secangkir coklat panas
tersiram oranye pucat lampu sorot
bibirnya bergerak-gerak
menyantuni malam kota dengan ribu-ribu kata

puisi apa yang dia baca
seperti puisi hujan yang kemarau
seperti puisi laut pasang yang surut
seperti puisi penghabisan

Bulungan, end of nov 09—

SIAPA YANG MEMBACA TULISAN KITA?

pulau palamatak

Setelah urusan meyakinkan diri tentang betapa penting dan bermanfaatnya menulis, barisan soal menghadang di depannya. “Nanti kalau sudah nulis, apa ada yang mau baca ya?”, “ lagian tulisanku selain menye-menye, juga cuma begitu-begitu saja” , “ ehm..apalagi kalau blog walking, suka gak pe-de sendiri, tulisan orang-orang kayaknya lebih keren dehhh!”…daaannn STOP!!!

Soal/urusan /masalah yang dipikir dan dirasa ‘akan datang’ memang akan gencar melemahkan dan menggoda kita untuk tidak memulai sebuah tindakan (: menulis). Jadi memamg harus di stop itu, sebab jika tidak, lama-kelamaan akan menjadi justifikasi bahwa lebih baik tidak menulis daripada menulis tapi tidak bagus dan belum tentu ada yang membaca.

Dengan apa menghentikannya?, ya dengan langsung menulis saja. Persoalan bagus atau tidaknya tulisan, tentu butuh proses : memperbanyak membaca, diskusi , berpikir, merenung dan terbuka dengan hal-hal baru. Percayalah, asal niatan kita bagus dan disertai dengan ilmu yang benar , maka bermanfaatlah tulisan kita untuk diri dan orang lain.amiin.

Empat tahun yang lalu misalnya, saya menulis opini di kompasiana “ SUKU DAYAK : Baik Hati dan Tidak Sombong” dan “ Backpackeran : Janda-Janda Mersam”, sampai saat ini masing-masing sudah dibaca oleh 2697 dan 946 orang. Dan mungkin saja akan terus bertambah pembacanya, insya allah.

Saat memposting tulisan itu, tidak ada targetan jumlah pembaca, hanya sekedar berbagi pengalaman dan berharap bermanfaat bagi para pembacanya. Sekarang kita boleh saja berandai-andai, jika pembaca tulisan kita sekitar 2600-an( anggap saja jumlah itu hanya sekedar membuka dan melihatnya saja) , maka taruhlah yang membaca beneran sekitar 1000-an, yang memahaminya sekitar 300-an dan sukur-sukur nih yang mengamalkan kebaikan tulisan itu sekitar 100-an. Bisa panen amal soleh kaann..hehehe.

Sudahlah, tidak usah berpanjang-panjang kata, setelah membaca tulisan ini, ayoo..nulisss. soal ada atau tidak, sedikit atau banyak yang membaca tulisan kita, tidak usah dipikirkan. Bismillah saja.

Backpackeran : JANDA-JANDA MERSAM
OPINI | 30 June 2011 | 10:41 Dibaca: 946 Komentar: 11 0

SUKU DAYAK : Baik Hati dan Tidak Sombong
OPINI | 08 June 2011 | 06:01 Dibaca: 2697 Komentar: 0 0

Salatiga, mei 2015

DJENAR DAN KUPU-KUPU

kupu-kupu djenar

Djenar, anak laki-lakiku yang kini berusia 23 bulan 23 hari, sedang menggemari kupu-kupu. Berat tubuhnya yang hampir 13 kg terguncang-guncang ketika berlari-lari mengejar kupu-kupu yang terbang rendah di taman depan rumah.

Kupu –kupu bewarna putih dengan ukuran kecil, menjadi perhatian khusus baginya. Tidak lain karena dialah yang cenderung terbang lebih rendah dan pelan dari pada 2 jenis kupu-kupu lainnya : warna kuning dengan ukuran sedikit lebih besar, terbang dengan lincah dan sangat cepat. Sedangkan yang warna putih totol hitam, ukurannya paling besar dibanding dua tersebut tadi, terbangnya juga lumayan tinggi.

“ tupu…tupuuuu…tupu!!!”, begitu teriakannya, belum jelas benar pengucapannya tapi terasa lepas sekali. Berlari dengan megal-megol sambil tertawa tergelak-gelak. “ ibuu..ibuuu…ciniii!!!”, teriaknya heboh, jika kebetulan aku tak mengikutinya—duduk sejenak di teras, kewalahan mengimbangi tenaga muda nya.

Pernah disuatu sore, djenar merengek minta dibelikan sesuatu, ujarnya “ ibu, tumbas jajan!”. Setelah ritual pengalihan perhatian tak berhasil, akhirnya kupakaikan sepatu dan kugandeng menuju tokonya bu Ari, tetangga sebelah. Djenar kemudian mencari-cari di rak permen dan makanan kecil, “ ibuu..tumbas tupu-tupu “.
Djenar…djenar, rupa-rupanya kamu berpikir bahwa semua bisa diperoleh dengan membeli, termasuk kupu-kupu. Sayang, kupu-kupu itu terbang, bebas dan tak ada di toples atau rak jajanan toko Bu Ari.

Kenapa kupu-kupu begitu menarik perhatianmu, Nak?. Mudah-mudahan, bukan semata karena keindahannya saja. Metamorfosa-nya, semoga menjadi inspirasi hidup dan kehidupanmu. Oh ya, ibu baru ingat, pernah menulis puisi tentang kupu-kupu. Bacalah, kelak ibu tunggu apresiasimu.

SERIBU KUPU-KUPU
Seribu kupu-kupu
Mengarusi jejak sepiku
Ngiring angin
Kepelukan senja
Sedang dekil tetap mewajah
Dalam pulang yang merisau
2002
dari diary Djenar, Salatiga—4 September 2014
Tumbas (bhs jawa) : beli

MENULIS DAN HIDUP YANG BERSEJARAH

menulis

Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu, dari apa yang ditulis oleh yang lalu dan dapat dibaca oleh yang kemudian. Ilmu, baik yang kasbiy (acquired knoledge) maupun yang ladunniy (abadi, perennial), tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qira’at bacaan dalam arti yang luas (Quraish Shihab, 95:17).

Pernyataan Quraish Shihab diatas, setidaknya menjadi salah satu alasan penting kenapa kita harus menulis. Kemudahan mengakses pengetahuan dimasa lalu diperoleh dengan membaca tulisan-tulisan dari zamannya. Kata lain, jika kita ingin memudahkan anak cucu mengakses pengetahuan dimasa kini, menulislah. Jika ingin, nama dan eksistensi kita menyejarah , menulislah.

Dalam sebuah workshop kepenulisan, Asma Nadia mengatakan, bahwa hampir semua pekerjaan di dunia, jika ingin menjadi yang terbaik, membutuhkan kemampuan menulis. Kemampuan menulis akan memberi nilai tambah apapun profesi atau kedudukan anda! (coba pikirkan satu profesi yang tidak membutuhkan menulis?)

Keuntungan menulis yag lain adalah dapat merubah cara pandang orang. Bahkan dalam sejarah, tulisan yang buruk pun dapat membuat perubahan besar di dunia, seperti tesis Darwin bahwa manusia berasal dari kera. Atau Tuhan telah matinya Friederich Nietzche dalam Also Sprach Zaratustra yang berpengaruh besar pada para filusuf anti Tuhan yang lainnya. Jika tulisan buruk saja membawa pengaruh besar, apalagi jika kita menulis hal yang baik.

Berpolemik melalui tulisan akan lebih terasa pengaruhnya, masing-masing bisa lebih seksama menelaah dan mencari sumber argumentasinya, dan cenderung terbuka terhadap masukan. Mengurangi hal-hal yang sifatnya emosional dan tidak terkontrol, ya melalui tulisan.

Mudah-mudahan pendapat Dr. Pennebaker tentang manfaat menulis berikut, semakin meyakinkan kita untuk menulis: menulis dapat menjernihkan pikiran, mengatasi trauma, membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, membantu memecahkan masalah, dan menulis bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Tak kurang feminis kawakan dari Maroko, mengatakan “usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa!”.
Selamat membaca dan menulis yaa. Semoga hidup kita menjadi sejarah.

SAJAK IBU KEPADA MUSA

musa

sumber:pumponthego.com

cecap air susuku , Nak
sebab aromanya kurir kerinduan kita
mengabarkan pada siapa kau mengada
; menegakkan langkah ibu menujumu

pada pemilik perahu dan aliran sungai ini
kutitipkan arah dan nasibmu
ke hulu semoga selamat
ke hilir semoga tak ada aral

awal dan akhir, Nak
bukan sebab kau lelaki

losarang, maret 2010